Monday, September 1, 2008

Perlukah Galeri Kampus

"Outside the Words" by Acep Zamzam Noor and Sitok Srengenge
will be showed at Rumah Seni Yaitu, September 5-15, 2008.

PERLUKAH galeri seni khusus di suatu kampus yang memiliki Jurusan Seni Rupa? Apa saja landasan ideal pendirian wahana eksposisi itu? Bagaimana dan apa kendala pengelolaan lembaga itu?

Beberapa masalah di atas mengemuka dalam suatu seminar yang diadakan oleh UPT Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Desember silam. Seminar nasional itu bertajuk “Peran Galeri Kampus dan Tantangan di Masa Depan”. Para pemakalah ialah Aminudin TH Siregar (direktur Galeri Soemardja-ITB, Bandung), Rifky Effendy (kurator Galeri Cemara 6, Jakarta), dan Agung Hujatnikajennong (kurator Selasar Sunaryo Art Space, Bandung).

Ketiganya, dalam bahasa berbeda-beda, mengakui tak gampang mengelola suatu galeri kampus. Hal terpokok ialah minimnya dana pengelolaan. Galeri kampus tidak atau belum dianggap penting bagi olah eksperimentasi, diseminasi hipotesa, ajang pembelajaran termasuk praktik pengabdian kepada masyarakat seperti tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi. Padahal eksistensi galeri kampus bisa mendukung pertumbuhan itu semua.

Kendala lain, sudah menjadi rahasia umum, ialah kosongnya sumber daya manusia yang kompeten. Kualifikasi para pengajar di lembaga pendidikan tinggi Seni Rupa kerap tak sesuai dengan ekspektasi publik.

Ciri Galeri Kampus
Galeri kampus, dalam medan sosial seni Indonesia, kurang dihargai. Salah satu alasannya, jumlah dan aktivitas galeri kampus tidak sebanding dengan akselerasi pertumbuhan dan kreasi galeri swasta. Dari media massa publik hanya mengenal nama Galeri Soemardja di lingkungan Seni Rupa ITB. Sedangkan Galeri Katamsi milik Seni Murni ISI Yogyakarta jarang ada aktivitasnya.

Meski lokasinya kurang strategis, terkesan eksklusif, atau bersifat sangat teoretik, seyogianya galeri kampus dikuatkan program-program dan anggarannya. Tujuannya agar lembaga galeri kampus itu punya peran—ke dalam untuk menampung kreativitas mahasiswa dan ke luar sebagai lembaga acuan pemikiran atau praktik estetik “baru”.

Di galeri kampus wacana akademik digodok, diteliti, lantas diwujudkan dalam bentuk karya seni atau teori. Bila fasilitasnya memadai dan dengan sistem kerja mandiri mahasiswa tentu betah bereksperimentasi. Bukan tidak mungkin dari sana akan lahir karya-karya studi yang menarik dan ide-ide yang segar atau “nakal”.

Para mahasiswa bisa mengoptimalkan kemampuannya, antara lain berdiskusi, menulis kritik, mengkurasi dan merancang pameran, mendesain strategi komunikasi atau belajar mengelola audiens di galeri kampus. Dengan begitu mereka terbekali dengan banyak aspek kognitif dan afektif yang dibutuhkan sebelum terjun di masyarakat. Idealnya, banyak seniman, teoretikus, kritikus, ahli sejarah seni, pedagog, atau adiministrator ulung lahir dari sana. Ibaratnya, galeri kampus adalah kawah candradimuka bagi seluruh sivitas akademika.

Secara politis dan ideologis galeri kampus berlandaskan misi edukatif. Oleh karena itu, galeri kampus mesti membuka diri sebagai ruang mediasi bagi gagasan-gagasan dan atau karya-karya edukatif. Pada sisi inilah kiranya galeri kampus punya “daya saing” dengan galeri-galeri partikelir.

Meski visi-misi galeri kampus berbeda dengan galeri publik, tata cara pengelolaannya patut dibuat profesional. Tentang ini mesti disinggung struktur lembaga, strategi manajemen, pranata, program serta termasuk siapa saja para pengelolanya. Akan sangat menarik jika mahasiswa diberi kepercayaan turut terlibat di tingkat kebijakan sampai pelaksanaannya. Jika semua aspek tersebut dikerjakan secara baik maka lembaga ini akan sangat mudah bekerja sama dengan lembaga donor. Jadi, dana bukan alasan penghambat.

Desain gedung dan ruang galeri tak perlu yang aneh-aneh. Fasilitasnya pun tak harus super canggih. Yang penting cukup untuk beraktivitas dan melakukan praktik eksperimentasi para mahasiswa-pengajar. Idealnya, galeri kampus itu mesti didesain agar sesuai dengan praksis dan mampu mengakomodasi perkembangan atau perubahan seni visual dunia.

Perlukah Galeri Kampus
Dalam konteks praktik edukasi seni rupa di Semarang atau Surakarta, misalnya, sudah saatnya perguruan tinggi yang memiliki Jurusan Seni Rupa merancang dan memberdayakan galeri kampus. Selama ini, jika saya tidak silap, kegiatan seni rupa di kampus-kampus itu diadakan sekenanya di ruang-ruang yang tidak didesain khusus. Padahal eksistensi galeri kampus kiranya sangat bermanfaat dan penting.

Praktik seni eksperimentasi atau gagasan yang ranum, misalnya, akan lebih baik dieksekusi di galeri atau lingkungan kampus. Praktik produksi artistika yang semenjana atau lancung, jika dipertontonkan untuk umum, ibarat menepuk air di dulang memercik ke muka sendiri. Gejala seperti ini sering ditemui dalam praktik eksposisi seni rupa mahasiswa, ambil contoh, di Semarang.

Pertanyaannya: Apakah ada kebutuhan internal mendirikan galeri kampus yang berwibawa di perguruan tinggi yang punya Jurusan Seni Rupa? Bagaimana menjawab tantangan akselerasi praktik seni visual di luar teritorinya?

Jelaslah, gagasan dan pertanyaan dalam esai ini ditujukan kepada segenap sivitas akademika Seni Rupa Unnes. (Tubagus P. Svarajati)