Thursday, January 15, 2009

Kisah Korek Api yang Tidak Membakar

Detail of “Sensitive #2” by Saftari (Photo: Collection RSY)


UKURAN mesin ketik itu tak lazim, besar—terbuat dari plat baja. Anehnya, tak ada tuas-berhuruf satu pun. Warnanya kuning matang.

Bagian rumah tuas-tuas itu berubah menjadi bak mobil pick-up. Muatannya berbeda. Yang satu penuh dengan puluhan batang korek api raksasa—lainnya berisi bongkahan batu kali.

Mesin-mesin ketik raksasa (180X120X50 cm) itu berjudul “Sang Pewarta #6” dan “Sang Pewarta #7”. Keduanya berbahan plat baja dan serat kaca (fiber glass), cat duco, dan kayu mahogani.

Objek gubahan itu karya Saftari (38), lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia sedang berpameran tunggal dengan tajuk “Anxious Objects” di Galeri Semarang, jalan Taman Srigunting 5—6, Semarang (5—15/1). Pameran ini dikurasi oleh Rifky Effendy.

Selain dua mesin ketik tadi, Saftari memamerkan dua instalasi lain dan tiga belas lukisan (semua akrilik di kanvas). Seluruh karya bertanda tahun 2008.

Mengutip si seniman, kurator menjelaskan bahwa lukisan-lukisan dalam “Anxious Objects” tak bermaksud lebih jauh memberikan makna tentang obyeknya. Tidak juga sebagai ungkapan atas kekhawatiran dan ketakutan terhadap marabahaya akibat kerusakan lingkungan.

Dalam pandangan kurator, Saftari menghadirkan persoalan ironi kehidupan dan pribadi. Imaji-imaji yang digubahnya memikat mata dan penuh perenungan, sublim.

Ya, secara umum karya Saftari memang memukau penglihatan. Ia mengerjakan lukisannya dengan rinci, rapi, bersih, dan enak dipandang. Kanvas-kanvasnya berukuran besar (lebih dari 150X150 cm).

Objek utama lukisannya adalah batang-batang korek api. Batang kayu api digambarkan berserat, terpotong rapi (malah terlalu rapi), bertumpuk-tumpuk. Dimensi kedalaman diungkapkan dengan teknik chiaroscuro yang lumayan baik. Pentol karbon, di salah satu ujungnya, seolah siap digesek dan... terbakar.

Anasir utama lukisannya ialah bentuk dan warna. Sensasi yang muncul, antara lain, berasal dari irama repetitif bebatang korek api. Hal ini memang melenakan pemandang.

Umumnya, nuansa lukisan Saftari bernada tunggal, lembut, dengan penekanan pada nada warna pastel. Pada “Sensitive #2” (200X300 cm) dan “Sensitive #3” (200X200 cm) bahkan sangat puitik. Semua pentol korek api itu berwarna merah muda dan oranye.

Satu-satunya lukisan yang diberi teks adalah “Explosive #2” (180X180 cm). Pokok gambarnya untaian korek api bersumbu yang ujungnya tengah terbakar—di tengah-tengah bidang kanvas. Warna kanvas merah-darah, penuh dengan teks “fire”. Suatu pesan yang berlebihan, bukan?

Pesan gampangan muncul dari lukisan panoramik “Explosive #3” (100X370 cm). Kanvas sebelah kiri dipenuhi dengan tumpukan batang korek api. Di sela-selanya terjepit “gunungan” (seperti dalam lakon wayang kulit). Ada sumbu melintang yang ujung kanannya tengah terbakar. Amsal tentang budaya Jawa yang akan punah?

Entah mengapa, lukisan-lukisan dengan objek sama—bebatangan korek api—mesti dijuduli berbeda, yakni seri “Sensitive” dan “Explosive”. Bedanya hanya bersumbu dan tidak.

Selain itu, ada tiga lukisan yang tak jelas maksudnya. Pada tiga lukisan itu (“Pewarta #3, #4, #5”) masing-masing tergambarkan satu mesin ketik dan satu kursi kayu. Mesin ketik yang satu melayang, bertengger di seikat rerantingan, atau bertumpu di sebongkah batu. Ketiga lukisan ini, hemat saya, cuma representasi ikonik yang etalatif.

Justru kesegaran muncul dari karya-karya instalasinya. Selain dua yang sudah disebut di atas, ada lagi dua karya instalasi bertajuk “Business of Java” (235X22X19 cm, counting machine, fiber glass, teak wood) dan “Menu Hari Ini #2” (70X57X40 cm, iron plate, stainless steel, rugos, fiber glass).

“Business of Java” adalah dua mesin hitung manual, dengan tuas penggerak di salah satu sisinya, yang dihubungkan dengan bilah papan panjang.

Sedangkan “Menu Hari Ini #2” ialah mesin ketik besar yang pada bidang atasnya, di bagian dalam, terdapat dua kepalaan kompor gas. Di atasnya diletakkan kawat-penutup kipas angin yang terpiuh.

Meski tak jelas bagaimana mengartikan dua instalasi itu, keduanya menguarkan kesan enigmatik. Segar.

Mengamati karya-karya Saftari, saya berkesan bahwa relasi bentuk dan isinya tak selalu sejalan. Seringkali bentuk formal kekaryaannya lebih kuat ketimbang isinya. Hal tersebut menjadi gejala umum dalam praktik seni rupa kontemporer Indonesia kiwari.

Setakat ini banyak sekali perupa yang menggubah lukisan dengan visualitas sederhana. Kebanyakan mereka hanya bermain di ranah rupa—bukan mendalami gagasan paradigmatik. Alhasil, nyaris tak ada nilai-nilai transenden dalam karya-karyanya.

Dalam hal Saftari, barangkali, nilai-nilai yang hendak diajukannya ialah persoalan “ironi kehidupan”. Ia seperti mengkritisi fenomena pemanfaatan kayu secara eksesif. Fakta ini menjurus pada praktik semena-mena pembabatan hutan tropis.

Jika hutan gundul, lingkungan hidup terancam, maka marabahaya pun menerkam. Mungkin beginilah jalan pikirannya.

Kerusakan lingkungan hidup memang harus dicegah. Akan tetapi, apakah pesan itu cukup kena jika disampaikan secara “indah” (baca: memikat mata) semata?

Apakah imaji-imaji yang “indah” itu mampu mendatangkan perenungan yang sublim (seperti kata kurator)?

Hemat saya, karya-karya yang hanya mengandalkan visualitas gampangan tak kuat mengekalkan makna yang hendak disandangnya. Pada lukisan Saftari itu makna terperangkap di balik visualitasnya yang genit. (Tubagus P. Svarajati)

[CATATAN: Esai ini dikirimkan ke The Jakarta Post, Jumat 9/1/2009.]

1 comment:

hargo wijoyo said...

mengutip adi wicaksono:"banyak seniman jogja yg mbentoyong dan kurang minat baca??".....tapi aku rasa pamerannya bagus kok....