Thursday, July 19, 2007

Seni Media Baru: Kultur Hibrid

They're watching video
at Rumah Seni Yaitu:



SERINGKALI ‘seni media baru’ (new media art) direduksi cuma etape linear dari sejarah seni rupa modern (fine art). Artinya, seni media baru menyandang beban historis menghalau bayang-bayang genealogi itu. Padahal ‘media’ – dalam wacana seni media baru – adalah sebagai ‘perantara pesan’, yakni transfer informasi dari pengirim (sender) kepada penerima pesan (receiver).

Secara singkat, media sebagai perantara informasi spesifik itu adalah ‘media massa’ seperti koran, radio, dan televisi. Perkembangan teknologi informasi, media, dan komunikasi itu melahirkan persepsi-persepsi baru pula. Inilah yang kemudian dikenal sebagai seni media baru yang memanfaatkan kemajuan itu semua untuk memproduksi bentuk-bentuk keseniannya yang khusus.

Krisna Murti – praktisi dan pengajar seni media baru – menegaskan bahwa seni media lahir dari perkembangan budaya ‘visual’ dari teknologi informasi dan media dimana elemen interaktivitas, virtualitas, dan imaterialitas punya peran penting. Alhasil, seni media baru terbentuk dari bastarisasi pelbagai galur.

Mengutip Lister, Agung Hujatnikajennong – kurator dan pengajar seni rupa ITB –menyebutkan karakter-karakter inheren yang terkandung dalam media baru, yakni sifat-sifat digitalis, interaktivitas, hipertekstualitas, menyebar, dan maya.

Singkatnya, praktik-praktik kesenian yang mengacu pada aplikasi-aplikasi teknologi spesifik, terutama media digital disebut ‘new media’ yang tidak lain merupakan ‘digital media’. Lebih jauh, istilah seni media baru ialah pelabelan terhadap kecenderungan genre seni yang menggunakan perangkat teknologi kamera (foto dan film), internet, komputer, video, dan berbagai turunannya yang berbasis teknologi digital. Meskipun begitu, ada pula praktik teknologi analog yang lalu dialih-ubah ke bentuk digital.

Jadi, seni media baru bukanlah ‘medium lama’ dalam konteks ‘material’ yang lantas digantikan dengan yang baru. Modus seni media baru memanfaatkan perangkat inovasi teknologi – terutama sekarang teknologi digital – untuk larut di dalamnya, membongkar tatanan, atau mungkin pula mempermainkan kemajuan itu semua demi ekspresi eksistensinya sendiri.

Gambar Bergerak
Pada dekade 1960an seni video identik dengan sosok Nam June Paik. Bermodal perekam video Sony, yang pertama di dunia dan disebut ‘portapak’, Paik menggugat hegemoni TV yang menyerbu ruang-ruang privat para kelas menengah di Amerika.

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”, seru Paik pada 1965. Paik didaulat sebagai Bapak Video Art atas konsistensi dan sikapnya yang heroik menentang penetrasi budaya kotak kaca itu.

Tetapi, tidaklah bijak jika terus-menerus mengaitkan produksi seni video (baca: media baru) itu sebagai gejala sub-kultur. Seni video pantas diartikulasikan sebagai genre otonom – atau kultur dominan – seni visual yang mencapai terminologi meta-visualitas. Imaji visualnya melampaui gambar diam (still image) dan diimbuhi pula dengan keriuhan audio.

Hingga kini semangat Paik tetap relevan dibincangkan dalam praktik produksi seni media di dunia. Etosnya itu ialah pemberontakan ideal terhadap kemajuan dan hegemoni teknologi informasi dan media yang dilakukan oleh pemerintah – hampir di tiap negara berkembang atau ketiga – untuk kepentingan korporasi global meskipun dengan dalih kemakmuran rakyatnya. Alhasil, masyarakat marjinal tidak punya akses mudah-murah menggapai kemajuan itu. Setidaknya kesetaraan itu yang ‘diperjuangkan’ para praktisi seni media.

Seni media berkembang pesat, salah satunya, dalam budaya konsumer anak-anak muda di kota-kota besar di dunia. Anak-anak muda itu mengalami perubahan, kemajuan, dan bergelimang dalam budaya teknologi yang canggih. Peranti kamera, alat perekam video, dan gadget murah-meriah melimpah seiring dengan inovasi teknologi program dan aneka software bajakan (untuk kasus di Indonesia).

Sesungguhnya, kelahiran video dan film merupakan embrio dari aspek gambar bergerak (moving image), yakni salah satu elemen paling umum seni media. Dengan kata lain, penemuan kamera – sebagai perangkat teknologi optik yang menghasilkan ‘pencanggihan’ imaji visual – adalah momen yang paling berpengaruh. Dus, tegas Agung Hujatnikajennong, tidak ada seni media baru jika tanpa penemuan kamera.

Dalam seni visual kontemporer, video melahirkan pemahaman baru tentang pentingnya aliran waktu (stream of time) dalam setiap produksi artistiknya. Waktu adalah salah satu gelagat utama disamping proyeksi gambarnya. Pemandang bertemu (encounter) atau menikmati seni video dalam kemewaktuan: signifikasi selalu berlangsung di dalam keterbatasan temporalitas. Dalam konteks ini, seni media baru meninggalkan paradigma seni visual konvensional yang hanya mampu memotret suasana kemewaktuan sesaat.

Dalam wacana seni media baru, seturut Krisna Murti, waktu yang dimaksud ialah waktu yang terbentuk karena intervensi mesin waktu, contohnya dari fotografi hingga internet. Paul Virilio (via Murti) mengilustrasikan bahwa manusia tidak lagi hidup dalam ruang-waktu belaka, tetapi ruang dimana waktu manusia dimanipulasikan. Dan apa yang dimanipulasikan kini bukan lagi waktu manusia, namun waktu-mesin. Justru kondisi memanipulasi waktu itulah yang menunjukkan kita kepada realitas (Henri Bergson).

Seni Media di Indonesia
Dalam sejarahnya, menurut Stewart Kranz, pertautan seni dan teknologi di dunia Barat dipicu oleh dekadensi kultur, sosial, dan politik pada dekade 1960an akibat Perang Dunia II. Penemuan dan kemajuan sains saat itu malah mendukung industri mesin perang atau militer yang, sudah pasti, berujung pada upaya penghancuran peradaban. Kolaborasi seniman, saintis, dan insinyur dalam praktik produksi seni media adalah bentuk perlawanan atas ekses dan kekuatan destruktif berbagai kemajuan iptek itu.

Pada tahun 80-an akhir hanya sedikit seniman Indonesia yang mengakrabi seni media, antara lain Teguh Ostenrik, Heri Dono, dan Krisna Murti. Barulah pada dekade akhir 90-an tumbuh pesat seniman-seniman media baru, antara lain, Jompet, Venzha, Aditya Satria, Ariani Darmawan, Tintin Wulia, Prilla Tania, Wimo Ambala Bayang, dan Andry Mochamad. Beberapa kelompok seniman seni media baru juga bermunculan, seperti ruangrupa, Bandung Center for New Media Arts, Cerahati, Video Lab, Vidiot, dan Video Battle.

Melihat fenomena seni media di Indonesia di atas, seorang kritikus menuduhnya sebagai suatu penetrasi budaya “…. materi tanpa sejarah idenya”. Tetapi simaklah fakta ini: tahun 2003 ruangrupa sukses mengadakan O.K. Video, festival video internasional, di Galeri Nasional Jakarta. Festival yang kedua berlangsung gemilang pula, 2005. Tahun ini OK Video berkeliling ke beberapa daerah menggelar lokakarya. Di Semarang lokakarya berlangsung di Rumah Seni Yaitu, Kampung Jambe 280, 9—16 April 2007.

Gagasan dan praktik seni media baru di dunia terus mencari bentuk idealnya sejalan dengan inovasi teknologi informasi dan media. Terbukti bahwa praktisi seni media di Indonesia bagian dari jejaring global itu. [Catatan: Esai ini berutang pada buku ‘Apresiasi Seni Media Baru’, Direktorat Kesenian, Dirjen Budaya, Seni dan Film, Depbudpar: 2006. (Tubagus P Svarajati)]

[CATATAN: Esai ini dikirimkan ke Suara Merdeka, Kamis (8/3)]

2 comments:

kuss-indarto said...

kok sepi nih. sibuk ngapain ya? mo nganti logo SPA yang norak bin katrok itu? hehehe

Tubagus P. Svarajati said...

Yang norak ya biarken tetep norak.
Yang katrok ya biarken katrok.
Yang penting sepi ing gawe rame ing pamrih....