Tuesday, January 29, 2008

Seni Mural di Pecinan

PECINAN Semarang sedang digagas sebagai satu objek turisme yang potensial. Atensi itu tidak hanya melibatkan Pemerintah, namun juga memunculkan aspirasi sebagian warga yang, lantas, mendirikan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata).

Peran dan dukungan Pemerintah tampak dari bakal diwujudkannya dua gerbang penanda kompleks Pecinan Semarang. Tetenger itu setidaknya membuktikan, bahwa Pecinan Semarang ialah aset berharga industri turisme lokal.

Meski tak jelas benar sampai di mana batas topografinya, kompleks Pecinan Semarang menunjukkan wataknya yang cukup khas. Hal itu secara kasat tampak dari dominansi warga suku Cina yang berdiam di sana. Mereka pun menjalankan usahanya yang beragam, bahkan ada yang berkesan mendekati kultur asalnya di negeri China, seperti: toko obat tradisional (di Gang Warung, Gang Pinggir, dan ujung Jalan Pekojan) atau kerajinan batu nisan (bongpay) di ujung Gang Cilik.

Sejak dua tahun terakhir berdiri sebuah toko khusus yang menjual pernak-pernik alat persembahyangan kelenteng di Gang Pinggir. Bertahun-tahun silam telah ada juga toko buku dan aksesori Cina di Jalan Sebandaran Timur.

Perkara kuliner, khususnya masakan Cina, ada juga di kawasan itu. Satu rumah makan khusus itu di Gang Warung dan yang lain di Jalan Pekojan. Kompleks rumah makan yang menjajakan masakan Cina yang tersohor – dulu – terletak di Gang Lombok. Sekarang yang tersisa di sana hanya tiga kios yang menjajakan ragam masakan Cina, mie titee, dan lunpia.

Satu lagi yang tak kalah menariknya, ialah adanya pasar tradisional – pasar tiban – di Gang Baru. Pasar ini dipercayai menjual berbagai kebutuhan sehari-hari dengan kualitas paling prima di Semarang.

Dan yang paling unik, sekalian diyakini mendatangkan berbagai mukjizat bagi yang percaya, ialah bercokolnya sekaligus 12 kelenteng di Pecinan Semarang.

Selain hal-hal di atas, tidak ada tanda-tanda fisik yang menunjukkan otentitasnya sebagai sebuah kawasan Pecinan. Tidak banyak bangunan yang berarsitektur kecinaan tersisa di areal itu. Yang masih terlihat hanyalah corak wuwungan yang mengingatkan kita pada bentuk rumah-rumah tradisional Cina. Lebih dari itu tak ada nuansa arsitektur kecinaan yang bisa dikenali lagi; kecuali satu-dua rumah di Jalan Petudungan.

Lantas, apa lagi yang layak “dijual” dari kawasan itu selain kelenteng dengan ritualitasnya?
***
Menjual kawasan Pecinan itu, tentu saja, tidak cukup mengandalkan gerakan sejumlah elite saja. Pengurus Kopi Semawis tidak bisa bekerja sendirian. Hal yang perlu diperhatikan, ialah bagaimana menggerakkan komunitas itu untuk menata diri dan kawasannya secara swadaya.

Mungkin saja ada kendala kultural, ekonomi, dan sosial-politik untuk bisa meyakinkan komunitas itu agar membangun kawasannya. Jika segala hambatan itu, termasuk halangan komunikasi dan psikologis, mampu terurai, maka tidak sukar kiranya menyulap kawasan Pecinan menjadi kian cantik dan punya nilai jual tinggi dalam konteks turisme.

Satu hal yang – pada hemat saya – sangat realistis ialah: mendorong warga agar menata bangunan tempat tinggalnya dengan pencitraan kecinaan. Arsitektural kecinaan itu, setidaknya, mampu menarik mata pelihat secara cepat (eye catching). Jika hal itu terealisasi, maka tanda fisikal sebagai kawasan Pecinan akan terbangun dengan sendirinya. Tidak seperti sekarang ini: rumah-rumah berpagar besi mirip kandang kebun binatang.

Gedung-gedung publik, seperti Gedung Pertemuan “Rasa Dharma” di Gang Pinggir, pantas direnovasi dengan model seperti itu. Toko-toko obat tradisional layak ditata pula, minimal, tampak depannya. Begitu juga tempat usaha yang dipandang strategis patut juga disesuaikan citraan arsitekturalnya.

Upaya lain, dari banyak hal yang mungkin bisa dilaksanakan secara gotong-royong dan melibatkan partisipasi publik secara luas, ialah diterapkannya seni mural di sejumlah lorong-lorong atau gang di kawasan itu. Sekarang ini banyak sekali tembok kosong dan luas yang hanya diisi corat-coret vandalisme (contohnya di Gang Cilik).

Pelibatan antara komunitas Pecinan dan publik – yang diwakili para seniman mural Semarang, misalnya – akan mengantarkan satu pengertian utuh, bahwa pengembangan satu kawasan akan berdampak positif bagi pembangunan kota secara integral.

Seni gambar ruang publik, sebagai bukti di Yogyakarta, membuat Kota Gudeg enak dipandang. Niscaya, hal yang sama bisa juga kita nikmati di Semarang.

Tubagus P Svarajati
Pemerhati seni rupa, tinggal di Semarang

[CATATAN: Esai ini diterbitkan di Kompas, 19 Oktober 2004]

No comments: