Thursday, June 14, 2007

Pameran Kisah tanpa Narasi

Artikel ini dimuat di Media Indonesia, Minggu, 10 Juni 2007
Judul asli:
Pameran "Kisah tanpa Narasi"
Titarubi Melawan Amnesia


Photo by Ferintus Karbon

ORANG-ORANG itu tergantung atau digantung. Sebagian tanpa kaki atau remuk pahanya. Ekspresi wajah mereka seperti menyimpan derita bertubi-tubi. Itulah sosok-sosok manusia (keramik) life-sized karya Titarubi.

Ruang pamer Rumah Seni Cemeti terasa mencekam ketika saya melangkah masuk, suatu siang. Tak ada pengunjung lain, suasana sepi. Kelimun manusia yang bergelantungan, diam-membisu, itu menguarkan atmosfir tragik-melankolik. Ada horor di seantero ruang.

Titarubi membawa selajur tikungan rel kereta api – lengkap dengan kayu-kayu bantalannya – dan tiga lori yang biasa untuk mengangkut onggokan tebu. Satu lori dibentuk seperti bak, berkerangka besi, dan berisi serakan remukan tubuh atau kaki-kaki manusia. Dua lori lainnya kosong, cuma kerangkanya saja. Di antara dua lori kosong itulah puluhan manusia berjejal bergantungan mengambang, di sudut ruang.

Sosok-sosok manusia terakota itu hasil dari teknik pembakaran sederhana dan dikesankan tak sempurna, kotor serta bebercak di sekujur tubuhnya. Manusia
Titarubi itu tidak berkelamin. Namun ciri-ciri tubuh dan wajahnya mencitrakan sebagai gender maskulin. Dan mereka manusia-manusia yang teraniaya.

Menurut kurator pameran, Alia Swastika, karya Titarubi ini seri ketiga dari “Kisah tanpa Narasi”. Versi pertama ditampilkan di Summit Bali Biennale, Desember 2005, berupa satu lori di atas selajur relnya dan tumpukan manusia terbakar yang diletakkan di alam terbuka. Di hamparan berumput hijau, di areal Museum Arma, Ubud, ketika itu karya Titarubi menguarkan sensasi imajiner yang menohok kedalaman relung kalbu kita. Adakah mereka, sosok-sosok manusia terbakar itu, adalah korban destruksi suatu rezim ataukah mereka adalah orang-orang yang kalah melawan kekuasaan entah?

Seri kedua karya Titarubi digelar di Singapore Biennale 2006, berkolaborasi dengan Agus Suwage, suaminya. Kini “Kisah tanpa Narasi” (versi ketiga) dielaborasikan di Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta, 8 Mei—3Juni 2007.

Melawan Kekalahan
“Kisah tanpa Narasi” ini diniatkan sebagai penolakan atas kekalahan manusia melawan sistem kekuasaan. Lori-lori – yang biasa memuat onggokan tebu yang akan diproses menjadi gula di pabrik-pabrik buatan Belanda – adalah saksi penindasan terhadap manusia dalam hubungan industrial kapitalistik pada era kolonial. Kita tahu, datangnya kereta api di Tanah Air (dulu Hindia Belanda) adalah juga sebagai tanda datangnya era modernitas.

Lori, hingga 1980an, masih digunakan sebagai pengangkut tebu dari kebun-kebun menuju pabrik. Industri gula adalah andalan Hindia Belanda dan memainkan peranan penting pada abad 17 dan 18. Dalam satu catatan, mengutip Lombard, industri gula itu bahkan sebagai tulang punggung Batavia dari proses keruntuhannya.

Berdasarkan fakta-fakta itulah, Titarubi membentangkan bagaimana kolonialisme bekerja dalam proyek bernama modernisasi. Industri gula dibangun dari derita ribuan manusia. Eksploitasi itu tidak berhenti setelah zaman kolonial berakhir. Penindasan masih juga berlangsung sampai sekarang. Manusia (marjinal) tetap menjadi korban dan dikorbankan dalam setiap langkah pembangunan. Dan “Kisah tanpa Narasi” (versi ketiga) bukanlah catatan tentang sebuah kekalahan, namun adalah bentuk perlawanan atas penindasan.

Titarubi menyadari bahwa tidak semua narasi marjinal di dunia ketiga adalah kisah kekalahan belaka. Manusia tidak selamanya menjadi korban. Justru ada peluang bagi manusia untuk terlibat aktif dalam pertarungan melawan segala bentuk penindasan.

Maka, manusia-manusia Titarubi tetap berdiri, kendati dalam kondisi serba rapuh, tidak sempurna, atau kaki-kaki yang terlepas. Itu semua sebagai simbol luka-luka dari masa lalu. Meskipun mereka adalah para korban, Titarubi menolak frasa korban jika hanya menunjuk pada pengalaman yang eksploitatif saja. Bangkit dari situasi sebagai penyintas (survivor) itulah yang terpenting. Harapan diletakkan di pundak bersama guna menyuarakan kepentingan mereka sendiri.

Melawan Amnesia
Semestinya, upaya apapun untuk melawan amnesia sejarah lebih ditujukan pada menepis penetrasi learned memory (ingatan yang diajarkan) oleh penguasa. Sedangkan lived memory (ingatan yang hidup) dalam masyarakat dijadikan memori kolektif untuk mengidentifikasi dan mengartikulasikan diri secara bersama-sama.

Setelah melewati suatu masa yang panjang, bisa jadi, praktik pabrikasi gula di banyak daerah di Jawa melahirkan sistem kultur dominan yang menjadi memori kolektif masyarakatnya. Perayaan panen tebu – dengan wayangan atau lenggeran, misalnya – adalah bentuk kolektivitas kultural itu.

Maka, impor gula dengan dalih efisiensi adalah tindakan sistematis negara melumpuhkan kultur petani gula kita. Meski peninggalan kolonial, pabrik-pabrik gula itu telah menjadi bagian nafas petani kita. Matinya pabrik gula, tidak lain, adalah matinya sebagian memori kolektif bangsa ini.

Karya Titarubi – Kisah tanpa Narasi – bisa diasosiasikan sebagai santir petani tebu yang terjungkal dan terpenggal dari sejarahnya sendiri.

Tubagus P Svarajati,
Penikmat seni visual, tinggal di Semarang

No comments: